Total Tayangan Halaman

Selasa, 07 Februari 2012

dinasti mamluk


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pada masa kekuasaan dinasti Ayyubiyah yang dipimpin oleh Al-Malik Al-Salih para budak dididik dan dijadikan tentaranya, diantara para budak tersebut adalah Dinasti Mamluk, karena pada dasarnya dinasti Mamluk berasal dari para budak yang ditawan oleh para penguasa dinasti Ayyubiyah dan pendirinya adalah Syajarah Ad-Durr, di Mesir mereka ditempatkan di pulau Raudhah di Sungai Nil untuk menjalani latihan meliter dan keagamaan. 
Setelah Al-Malik Al-Salih meninggal kedudukan dinasti Mamluk merasa terancam karena posisi kesultanan digantikan oleh Turansyah putra dari Al-Malik Al-Salih sebab Turaansyah lebih dekat kepada tentara Kurdi dari pada Mamluk. Kemudian di bawah pimpinan Aybak dan Baybars, Turansyah  berhasil dibunuh. Selam tiga bulan tampuk kekuasaan di pegang oleh Syajarah Ad-Durr istri dari  Al-Malik Al-Salih, ia kemudian menikah dengan Aybak sebagin tampuk kekuasaan dipimpin oleh Aybak akan tetapi tidak lama kemudian Aybak membunuh Syajarah A-Durr dan mengendalikan sepenuhnya tampuk kekuasaan. Aybak berkuasa selama tujuh tahun (1250-1257 M).  Setelah meninggal ia digantikan oleh anaknya, Ali yang masih berusia muda. Ali kemudian mengundurkan diri pada tahun 1259 M dan digantikan oleh wakilnya, yaitu Qutuz.
B.  Tujuan
Tujuan utama penulisan makalah ini adalah sesuai dengan mata kuliah Sejarah Peradaban Islam khususnya Dinasti Mamluk adalah untuk melestarikan sejarah itu sendiri serta mengetahui identitasnya, serta dapat mengambil hikamah dari alur sejarah Dinasti Mamluk tersebut, dari masa perkembangannya sampai dengan masa kemunduran Dinasti Mamluk.
C.  Rumusan Masalah
1)      Asal-usul Dinasti Mamluk
2)      Sumbangsih Para Arsitek Muslim Terhadap Dinasti Mamluk
3)      Faktor-faktor Yang Menunjang Kemajuan Dinasti Mamluk
4)      Faktor Yang Mempengaruhi Kemuduran Dinasti Mamluk
5)      Analisis Pembahasan
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Asal-usul Dinasti Mamluk
Secara etimologi asal kata Mamluk artinya budak, sedangkan bentuk jama’ dari kata Mamluk adalah Mamalik. Dinasti Mamluk atau Mamalik pada dasarnya memang didirikan oleh para budak. Mereka pada mulanya adalah orang-orang yang ditawan oleh para penguasa Dinasti Ayyubiyah sebagai budak, kemudian dididik dan dijadikan tentaranya. Mereka ditempatkan pada kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Oleh penguasa Ayyubiyah yang terakhir, Al-Malik Al-Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Pada masa penguasa ini, mereka mendapat hak-hak istimewa, baik dari karir ketentaran maupun dalam imbalan-imbalan material. Pada umumnya mereka berasal dari daerah Kaukasus dan laut Kaspia. Di Mesir mereka ditempatkan di pulau Raudhah di Sungai Nil untuk menjalani latihan meliter dan keagamaan. Karena itulah, mereka dikenal dengan julukan Mamluk Bahri (laut). Saingan mereka pada masa itu adalah tentara yang berasal dari suku Kurdi.
Ketika Al-Malik Al-Salih meninggal pada tahun 1249 M, anaknya Turansyah, naik tahta sebagai Sultan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 M, Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah. Istri Al-Malik Al-Salih, Syajarah Al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik. Kepemimpinan Syajarah Al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin dengan seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya sambil berharap terus dapat berkuasa dibelakang tabir. Akan tetapi segera setelah itu Aybak membunuh Syajarah Al-Durr dengan mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan. Pada mulanya, Aybak mengangkat seorang keturunan penguasa Ayyubiyah bernama Musa sebagai Sultan “syar’I” (formal) di samping dirinya yang bertindak sebagai penguasa yang sebenarnya. Namun, Musa akhirnya dibunuh oleh Aybak. Ini merupakan akhir dari dinasti Ayyubiyah di Mesir dari kekuasaan Dinasti Mamluk.
Aybak berkuasa selama tujuh tahun (1250-1257 M).  Setelah meninggal ia digantikan oleh anaknya, Ali yang masih berusia muda. Ali kemudian mengundurkan diri pada tahun 1259 M dan digantikan oleh wakilnya, yaitu Qutuz. Setelah Qutuz naik tahta, Baybars yang mengasingkan diri ke Syiria, karena tidak senang dengan kepemimpinan Aybak kembali ke Mesir. Di awal tahun 1260 M, tentara Mesir terancam serangan bangsa Mongol, yang sudah berhasil menduduki hampir seluruh dunia Islam. Kedua tentara bertemu di Ayn Jalut dan pada tanggal 13 september 1260 M, tentara Mamalik di bawah pimpinan Qutuz dan Baybars berhasil menghancurkan tentara Mongol tersebut. Kemenangan atas tentara Mongol ini membuat kekuasaan Mamalik di Mesir menjadi tumpuan harapan umt Islam disekitarnya. Penguasa-penguasa di Syiria segera menyatakan setia kepada penguasa Mamalik.
Tidak lama setelah itu, Qutuz meninggal dunnia. Baybars, seorang pemimpin meliter yang tangguh dan cerdas, diangkt oleh pasukannya menjadi Sultan pada tahun 1260–1277 M. Ia adalah Sultan terbesar dan termasyhur diantara 47 Sultan Mamalik. Ia pula yang dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamluk atau Mamalik.[1]
B.  Sumbangsih Para Arsitek Muslim Terhadap Dinasti Mamluk
Ketika Khalifah al-Zahir dari Dinasti Mamluk ingin membangun sebuah masjid besar di Kota Kairo. Lalu, ia mengumpulkan arsitek dan ahli rekayasa bangunan terbaiknya. Antara lain, Ataybek Fans Eddine Aqtay dan Assahib Fakhr Eddine, untuk membahas proyek ini. Mereka ditugaskan mencari lokasi terbaik, mendesain bentuk bangunan, menentukan bahan bangunan, dan mengawasi pekerja. Para arsitek itu juga dikirim ke beberapa negara Islam untuk studi banding. Ketika proyek pembangunan dimulai, secara rutin khalifah meninjau langsung ke lokasi dan memantau perkembangan. Para penguasa dan masyarakat
Muslim memandang bidang konstruksi sebagai sesuatu yang penting. Hadirnya karya-karya bangunan dengan arsitektur indah serta kokoh, seperti jalan, jembatan, masjid, ataupun kanal, mempertegas keunggulan umat Islam dalam khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad pertengahan.
Khalifah al-Mamun ibnu Musa senantiasa mengarahkan para arsiteknya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Ini merupakan bentuk perhatiannya terhadap perkembangan bidang teknik sipil. Dia ingin agar setiap bangunan memenuhi unsur-unsur tertentu, seperti kuat, kokoh, juga berdesain indah.
Dunia Islam mengenal sederet arsitek ternama. Ibn Khaldun salah satunya. Beragam karya bidang teknik sipil merupakan kontribusinyayang tersohor di seluruh dunia Islam. Tokoh lainnya adalah al-Kindi. Ia juga terkenal sebagai ahli ilmu alam. Begitu pula, al-Razi yang populer sebagai ahli rekayasa bangunan dan ahli kimia. Adapula nama Mimar Sinan. seorang arsitek di zaman Turki Usmani. Muncul pula nama al-Biruni dalam bidang tersebut. Selain itu, namanya selama ini melambung melalui bidang lainnya, yaitu astronomi dan fisika. Sejumlah ilmuwan lainnya, seperti al-Jazari mengkhususkan diri dalam bidang rekayasa. Namun, menurut Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Mill, sebagian besar dan mereka tak banyak tercatat namanya.
Saat mengerjakan sebuah proyek pembangunan, ada kalanya para arsitek saling bertukar pandangan. Sedangkan untuk mengerjakanproyek yang begitu besar, seperti pembangunan Kota Baghdad di masa Abbasiyah, dibentuklah sebuah komite untuk menjalankan proyek itu. Tugas komite ialah mendesain sekaligus mengawasi seluruh pengerjaan proyek pembangunan. Menurut al-Hassan dalam Islamic Technology An Illustrated History, mereka juga bertindak sebagai kontraktor dan dapat menugaskan beberapa subkontraktor untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih spesifik.[2]
C.  Faktor-faktor Yang Menunjang Kemajuan Dinasti Mamluk
Dinasti Mamluk membawa sejarah baru dalam sejarh politik Islam. Pemerintahan Dinasti ini bersifat oligarki meliter, kecuali dalam waktu yang singkat ketika Qalawun (1280-1290 M ) menerapkan pergantian Sultan secara turun temurun. Anak Qalawun hanya berkuasa empat Tahun, karena kekuasaannya direbut oleh Kitbugha ( 1295-1297 M ). Sistem pemerintahan oligarki ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir. Kedudukan amir menjadi sangat penting. Para amir berkompetisi dalam prestasi, karena mereka merupakan kandidat Sultan. Kemajuan-kemajuan itu dicapai dalam berbagai bidang, seperti konsolidasi pemerintahan, perekonomian dan ilmu pengetahuan dan lain-sebagainya.
1.    Bidang Pemerintahan
Diantara bidang pemerintahan, kemenangan Dinasti Mamluk atas tentara Mongol di Ayn Jalut menjadi modal besar untuk menguasai daerah-daerh sekitarnya. Banyak penguasa-penguasa dinasti kecil menyatakan setia kepada kerajaan ini. Untuk menjalankan pemerintahan di dalam negri., Baybars mengangkat kelompok meliter sebagai elit politik. Di samping itu untuk memperoleh simpati dari kerajaan-kerajaan Islam lainnya, Baybars membaiat keturunan Bani Abbas yang berhasil meloloskan diri dari serangan bangsa Mongol, Al-Mustanshir sebagai khalifah. Dengan demikian, kholifah Abbasiyah, setelah dihancurkan oleh tentara Hulago di Baghdad berhasil dipertahankan oleh Dinasti ini dengan Kairo sebagai pusatnya. Sementara itu, kekuatan-kekuatan yang dapat mengancam kekuasaan Baybars dapat dilumpuhkan, seperti tentara Salib di sepanjang Laut Tengah Assasin di pegunungan Syiria, Cyrenia (tempat berkuasanya orang-orang Armenia), dan kapal-kapal Mongol di Anatolia.
2.    Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, dinasti Mamluk membuka hubungan dengan Prancis dan Italia melalui perluasan jaur perdagangan yang sudah dirintis oleh dinasti Fathimiyah di Mesir sebelumnya. Jatuhnya Bagdad membuat Kairo sebagai jalur perdagangan antara Asia dan Eropa, menjadi lebih penting karena Kairo menghubungkan jalur perdagangan Laut Merah dan Laut Tengah dengan Eropa. Di samping itu, hasil pertanian juga meningkat. Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan transportsi dan komoniksi antar kota, baik laut maupun darat. Ketangguhan angkatan laut Mamluk sangat membntu perkembangan perekonomiannya.
3.    Bidang Ilmu Pengetahuan
Di bidang ilmu pengetahun, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuan-ilmuan asal Baghdad dari serangan tentara Mongol. Karena itu, ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, kedokteran, astronomi, matematika dan ilmu agama.  Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan, Ibn Taghribardi, dan Ibn Khaldun. Di bidang astronomi dikenal nama Nasir Al-Din A-l-Tusi. Di bidang Matematika Abu Al-Faraj Al-Ibriy. Dalam bidang kedoktern; Abu Al-Hasan Ali Al-Nafis, penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia, Abd Mun’im Al-Dimyathi, seorang dokter hewan, dan Al-Razi, perintis psikoterapi. Dalam bidang opthalmologi di kenal nama Al-Din Ibn Yusuf, sedangkan dalam bidang Ilmu keagamaan, tersohor nama Ibn Taimiyah, seorang pemikir reformis dalam Islam, Al-Sayuti yang menguasai banyak ilmu kegamaan, Ibn Hajar Al-Asqalani dalam ilmu hadis dan lain-lain.[3]

4.    Ketentaraan
Pemerintahan dinasti ini dilantik dari pengaruhnya dalam  ketentaraan. Para tentara dinasti Mamluk yang dididik haruslah dengan tujuan untuk menjadi pasukan pendukung kebijaksanaan pemimpin. Ketua Negara atau sultan akan diangkat di antara pemimpin tentera yang terbaik, yang paling berprestasi, dan mempunyai kemampuan untuk menghimpun kekuatan. Walaupun mereka adalah pendatang di wilayah Mesir, mereka berhasil menciptakan ikatan yang kuat berdasarkan daerah asal mereka.
Dinasti Mamalik juga menghasilkan buku mengenai ilmu ketenteraan. Minat para penulis semakin terpacu dengan keinginan mereka untuk mempersembahkan sebuah karya kepada kepada para sultan yang menjadi penguasa saat itu. Perbahasan yang sering dibahas adalah mengenai selok-belok yang berkaitan dengan serangan bangsa Mongol. Pada lingkungan ketenteraan Dinasti ini, menghasilkan banyak karya tentang ketenteraan, khususnya keahlian menunggang kuda.
5.    Budaya Politik
Landasan yang dipakai untuk menilai fitrah politik para Mamalik adalah dengan mempergunakan kaca mata yang Islamik, yakni keberadaan manusia di bumi ini bertujuan untuk  beribadat kepada Allah.[4]
6.    Layanan Pos Dinasti Mamluk
Layanan pos di era kejayaan Islam tak hanya sekadar sebagai pengantar pesan. Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir pada 1250 M hingga 1517 M juga menjadikan pos sebagai alat pertahanan. Guna mencegah invasi pasukan tentara Mongol di bawah komando Hulagu Khan pada medio abad ke-13 M, para insinyur Mamluk membangun menara pengawas di sepanjang rute pos Irak hingga Mesir.
Di atas menara pengawas itu, selama 24 jam penuh para penjaga telah menyiapkan tanda-tanda bahaya. Jika bahaya mengancam di siang hari, petugas akan membakar kayu basah yang dapat mengepulkan asap hitam. Sedangkan di malam hari, petugas akan membakar kayu kering. Upaya itu ternyata tak sepenuhnya berhasil. Tentara Mongol mampu menembus Baghdad dan memorak-porandakan metropolis intelektual itu. Meski begitu, peringatan awal yang ditempatkan di sepanjang rute pos itu juga berhasil mencegah masuknya tentara Mongol ke Kairo, Mesir.
Hanya dalam waktu delapan jam, berita pasukan Mongol akan menyerbu Kairo sudah diperoleh pasukan tentara Muslim. Itu berarti, sama dengan waktu yang diperlukan untuk menerima telegram dari Baghdad ke Kairo di era modern. Berkat informasi berantai dari menara pengawas itu, pasukan Mamluk mampu memukul mundur tentara Mongol yang akan menginvasi Kairo. Menurut Paul Lunde, layanan pos melalui jalur darat pada era kekuasaan Dinasti Mamluk juga sempat terhenti ketika pasukan Tentara Salib memblokir rute pos. Meski begitu, penguasa Dinasti Mamluk tak kehabisan akal.
Sejak saat itu, Dinasti Mamluk mulai menggunakan merpati pos. Dengan menggunakan burung merpati sebagai pengantar pesan, pasukan Tentara Salib tak dapat mencegah masuknya pesan dari Kairo ke Irak. Merpati pos mampu mengantarkan surat dari Kairo ke Baghdad dalam waktu dua hari, tutur Lunde. Sejak itu, peradaban Barat juga mulai meniru layanan pos dengan merpati seperti yang digunakan penguasa Dinasti Mamluk.
Lunde menuturkan, pada 1300 M Dinasti Mamluk memiliki tak kurang dari 1.900 merpati pos. Burung merpati itu sudah sangat terlatih dan teruji mampu mengirimkan pesan ketempat tujuan. Seorang tentara Jerman bernama Johan Schiltberger menuturkan kehebatan pasukan merpati pos yang dimiliki penguasa Dinasti Mamluk. Sultan Mamluk mengirim surat dengan merpati, sebab dia memiliki banyak musuh. Dinasti Mamluk memang bukan yang pertama menggunakan merpati pos. Penggunaan merpati untuk mengirimkan pesan kali pertama diterapkan peradaban Mesir kuno pada 2900 SM.
Pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk, merpati pos juga berfungsi untuk mengirimkan pesanan pos parcel. Al-kisah, penguasa Mamluk sangat puas dengan kiriman buah ceri dari Lebanon yang dikirimkan ke Kairo dengan burung merpati. Setiap burung merpati membawa satu biji buah ceri yang dibungkus dengan kain sutra. Pada masa itu, sepasang burung merpati pos harganya mencapai 1.000 keping emas. Layanan merpati pos ala Dinasti Mamluk itu tercatat sebagai sistem komunikasi yang tercepat di abad pertengahan.[5]
Dinasti Mamluk juga banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah.. bangunan-bangunan lain yang didirikan pada masa ini diantarnya adalah, rumah sakit, museum, perpustakaan, vila-vila, kubah, dan menr masjid.
Kemjuan-kemajuan itu tercapai berkat kepribadian dan wibawa sultan yang tinggi, solidaritas meliter yang sangat kuat dan stabilitas negara yang amam dari gangguan. Akan tetapi, ketika faktor-faktor tersebut menghilang, dinasti Mamluk sedidikit demi sedikit mengalami kemunduran.
D.  Faktor Yang Mempengaruhi Kemuduran Dinasti Mamluk
Semenjak masuknya budak-budak dari Srikasia yang kemudian dikenal dengan nama Mamluk Burji, yang pertama kalinya dibawa oleh Qawalun, solidaritas antara sesama meliter menurun, terutama setelah Mamluk Burji berkuasa. Banyak penguasa Mamluk Burji yang bermoral rendah dan tidak menyukai ilmu pengetahuan. Kemewahan dan kebiasaan berfoya-foya dikalangan penguasa menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya semangat kerja rakyat menurun dan perekonomin negara tidak stabil. Di samping itu, ditemukannya  Tanjung Harapan oleh Eropa tahun 1498 M, menyebabkan jalur perdagangan Asia-Eropa melalui mesir menurun fungsinya. Kondisi ini diperparah oleh datangnya kemarau panjang dan berjangkitnya wabah penyakit.[6]
E.  Analissis Pembahasan
Pada masa Dinasti Mamluk ada beberapa poin penting yang dapat dijadikan kebanggaan bagi Dinasti Mamluk sendiri, yaitu ketika mengalami masa kemajuaan, yaitu : dalam bidang pemerintahan, ekonomi, ilmu pengetahuan, ketentaraan, budaya politik dan layanan pos. kemajuaan tersebut diperoleh karana pada masa itu sistem yang digunakan dalam pemerintahan tersebut adalah sistem oligarki meliter, sistem tersebut banyak mendatangkan kemajuan seperti yang telah disebutkan di atas.
Bicara soal kemajuan Dinasti Mamluk, tidak lepas pula kita bicara masalah kemundurannya karna tidak selamnya posisi Dinasti Mamluk berada pada masa keemasan akan tetapi terkadang secara  perlahan akan mengalami kehancuran. Problemnya adalah sejak Qawalun membawa budak-budak dari Srikasia atau yang dikenal dengan Mamluk Burji, solidaritas antar meliter menurun, terutama setelah Mamluk Burji berkuasa, karena Mamluk Burji tidak suka menuntut ilmu pengetahuan, dan kemewahan serta kebiasaan berfoya-foya dikalangan penguasa Mamluk Burji menyebabkan pajak dinaikkan. Imbasnya semangat keraja rakyat menurun dan perekonomin negara juga tidak stabil.
BAB III
KESIMPULAN
Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa latar belakang atau asal-usul Dinasti Mamluk adalah berasal dari para budak yang ditawan oleh penguasa Ayyubiyah yang dipimpin oleh Al-Malik Al-Salih, kemudian mereka dididik dan dilatih menjadi pasukan meliter yang tangguh oleh Al-Malik Al-Salih serta dijadikan pengawal untuk kelangsungan kekuasaannya. Ketika Al-Malik Al-Salih meninggal pada tahun 1249 M, anaknya Turansyah, naik tahta sebagai Sultan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 M, Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah. Istri Al-Malik Al-Salih, Syajarah Al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik. Kepemimpinan Syajarah Al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin dengan seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya sambil berharap terus dapat berkuasa dibelakang tabir. Akan tetapi segera setelah itu Aybak membunuh Syajarah Al-Durr dengan mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan.
Kemajuan yang dicapai oleh dinasti Mamluk diantaranya : bidang pemerintahan, ekonomi, ilmu pengetahuan, ketentaraan, budaya politik dan layanan pos, yang mana masing-masing bidang tersebut sangat berperan penting untuk kelangsungan kekuasaan dinasti Mamluk. Semuanya saling memiliki keterkaitan dalam bidang tersebut.
Akan tetapi kemunduran yang dialami oleh Dinasti Mamluk, pada masa kekuasaan Qawalun sunguh sangat merugikan Dinasti Mamluk karena budak-budak yang dibawa dari Srikasia atau yang dikenal dengan Mamluk Burji tidak bisa mempertahankan kemajuan dinasti Mamluk, mereka lebih senang dengan kemewahan dan berfoya-foya sehingga pajak dinaikkan oleh para penguasa dan perekonomian negara tidak stabil, mereka juga tidak senang dengan ilmu pengetahuan , oleh karena, mereka harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.
Mungkin hanya ini yang dapat pemakalah simpulkan dari pembahasan di atas, mohon maaf atas segala kekurangannya baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Kritik dan saran yang membangun pemakalah harapkan untuk kedepannya bisa lebih baik dari yang sekarang. Amin….

DAFTAR PUSTAKA

Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT.Raja Grafindo Persada:Jakarta : 2008
C.E.Bosworth, Dinasti-dinasti Islam, Bandung: 1993
http://www.Republika.com. Yusuf Assidiq






[1] Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT.Raja Grafindo Persada:Jakarta : 2008
[2] .Yusuf Assidiq, Republika.com
[3] . C.E.Bosworth, Dinasti-dinasti Islam, Bandung: 1993
[4] . http://www.halaqah.net
[6] Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT.Raja Grafindo Persada:Jakarta : 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar